Aung San Suu Kyi menang, bisakah muslim di Myanmar dapatkan keadilan?

Aung San Suu Kyi nama yang tidak asing lagi bagi kita.
Setelah lebih kurang 25 tahun merasakan demokrasi semu yang di dengungkan penguasa Myanmar, rakyat akhirnya bisa bernafas lega setelah pemilihan umum pertama disana berjalan dengan lancar dan aman. Terlebih, tokoh Aung San Suu Kyi yang selama ini digadang-gadang sebagai tokoh demokrasi Myanmar dengan partainya berhasil mengalahkan partai berkuasa disana dengan kemenangan mutlak.


Partai oposisi Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NDL) mampu meraih tidak kurang dari 80 persen suara di majelis rendah, dan memimpin perolehan kursi di majelis tinggi dan majelis regional. Cukup besar harapan seluruh dunia Suu Kyi dengan kemenangannya akan membawa Myanmar kearah demokrasi yang didambakan, terlebih bagi minoritas muslim Myanmar yang selama ini telah merasakan pahitnya diskriminasi dan kesewenang-wenangan penguasa lalim.
Tokoh demokrasi Myanmar, Suu Kyi. (Gambar: Wikipedia)

Belum tentu jadi presiden
Suu Kyi bersama partainya boleh saja memenangkan pemilu 8 November 2015 lalu dengan kemenangan besar, namun ternyata masih banyak yang skeptis bahwa ia akan dapat menjadi presiden Myanmar yang baru.

Contoh saja, dalam Rancangan Undang Undang (RUU) Myanmar ternyata berisi sebuah klausul yang mencegah Suu Kyi menjadi presiden. RUU ini juga mempertahankan peran militer dalam politik dengan mengizinkan penguasaan seperempat kursi parlemen. Begitupun dengan adanya klausul yang menghalangi Suu Kyi duduk di kursi presiden karena anak=anaknya berkewarganegaraan asing.

Apalagi, militer Myanmar memegang kekuasaan yang sangat besar didalam lembaga politik Myanmar. Hubungan Suu Kyi dengan kepala angkatan bersenjata disana juga kurang harmonis.

Keadilan untuk muslim Myanmar
Jabatan presiden boleh saja jatuh ke tangan Suu Kyi, namun hal yang paling utama dan menjadi pertanyaan dibenak setiap orang, bisakah minoritas muslim di Myanmar memperoleh keadilan yang sama rata dengan rakyat Myanmar lainnya?

Suu Kyi yang terkenal dengan sikap pro-demokrasinya memang menjadi semacam oase bagi minoritas muslim disana. Sebagai tokoh penting dalam demokrasi dunia, hampir seluruh mata saat ini tertuju pada Suu Kyi untuk menyelesaikan ketimpangan yang ada di Myanmar.

Selain itu, menurut catatan Reuters, tidak satupun warga muslim yang menjadi kandidat NDL untuk wilayah manapun.

Wallahu 'alam.





Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: