Kompas mau jadi media beradab atau biadab?

Tulisan ini saya buat sebelumnya di media Kompasiana
pada penghujung 2014 lalu. Isinya sih sederhana, untuk mengkritisi tim verifikator komentar di media tersebut.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kompas adalah salah satu media terbesar di Indonesia. Berbagai informasi berita dapat kita cari dan temukan disini. Kompas juga menyediakan berbagai kanal (semacam kategori) di Menu Utamanya, mulai dari Berita Utama, Nasional, Internasional, Tekno, dll.

Semua dapat diakses, gratis. Isi berita dari kanal tersebut dapat di komentari. Menariknya disini. Pembaca dapat menuangkan opini atau pemikirannya atas isi berita tersebut. Seharusnya opini-opini tersebut bersifat konstruktif, membangun. Namun tak sedikit isi dari kotak komentar yang dibuat hanyalah berisi komentar kotor, saya menyebutnya sampah.

Satu agama menghujat agama lainnya, satu pengguna merk menghujat pengguna merk lainnya (lihat saja komentar pembaca di berita tentang Apple ataupun Android Samsung). Mengecewakan apabila kita menyadari bahwa Kompas sesungguhnya adalah media besar, namun juga menyediakan ruang bagi pembacanya untuk saling hujat dan maki memaki, terlebih bila menjurus ke arah SARA. Seharusnya Kompas menyaring isi komentar terlebih dahulu, di approve, baru kemudian di publish. Agaknya seperti itu jauh lebih baik.

Berikut adalah berbagai komentar rasis dari orang-orang itu:

Beritanya ini: Gadis 9 Tahun Tinggalkan Australia untuk Dinikahkan Komentarnya ini, komentarnya ini:




Beritanya ini: Perempuan Palestina Ditembak Tentara Israel, komentarnya ini:


Beritanya ini: Akibat Berpakaian Seksi, Model India Ditampar Penonton Saat Siaran Langsung, komentarnya ini:


 Beritanya ini: Galaxy Alpha Lebih Mahal dari iPhone 5s dan Galaxy S5? Komentarnya ini:


Kenapa pada berita yang kaitannya dengan gadget, komentar pembaca dapat dihapus? Padahal isinya mungkin tidak separah komentar-komentar diatas. Itu hanya beberapa contoh. Menggelikan dan juga memuakkan. Padahal Kompas sendiri sebenarnya sudah memuat aturan yang telah ditetapkan dalam UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik, dalam link ini.

Pada poin ketiga dijelaskan sebagai berikut:

Sebenarnya atas dasar aturan-aturan tersebut, berbagai komentar SARA dapat dihapus dengan mudah, atau bahkan dapat ditolak sebelum ditampilkan.

Namun itulah yang terjadi, ketika berbagai komentar SARA bermunculan tim verifikator komentar seolah tutup mata, membiarkan serangan berbau SARA bertubi-tubi liar begitu saja. Akhirnya kemungkinan yang terjadi adalah: berbagai kerusuhan atas dasar SARA yang pernah terjadi di Indonesia beberapa tahun silam. Apakah harus terulang karena disebabkan oleh media sekelas Kompas? Kompas.com mau jadi media beradab atau menjadi tempat berkumpulnya orang-orang biadab?

Akhirnya saya coba mengirim komentar seperti ini:


Saya tidak pasti apakah akan di hapus, tidak ditampilkan, atau apa yang akan terjadi nantinya dengan komentar saya seperti itu. Tapi itulah yang saya rasakan.

Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: