Seni pantun politik yang menarik

Indonesia terkenal sebagai bangsa dengan sejarah kesenian yang panjang. Tak hanya nyanyian dan tarian tradisional, sejarah bangsa ini mencatat orang-orang dulu senang berbalas pantun dalam menyampaikan maksud.

Sejak dulu kebiasaan berbalas pantun sangat lekat dimasyarakat, bahkan hingga kinipun masih banyak dijalankan dalam ritual lamaran pernikahan. Biasanya pihak perempuan akan bertanya dalam untaian kalimat elok atas maksud dan tujuan kedatangan pihak laki-laki, kemudian dijawab pula dengan kalimat yang tak kalah indah. Konon, kebiasaan ini sudah lama adanya terutama bagi masyarakat dirumpun Melayu.

Nah, ada yang menarik perihal berbalas pantun ini di Indonesia. Saling berbalas-balasan pantun ternyata juga diadopsi oleh elit politik negeri ini.

Twitter @jokowi

Beberapa waktu lalu, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam lawatannya ke Jawa yang dikemas dengan istilah Tour de Java sempat memberikan masukan kepada presiden Jokowi terkait perlambatan ekonomi Indonesia. Dalam lawatan itu SBY mengomentari perihal perlambatan ekonomi yang kemudian diperparah oleh serapan APBN yang banyak diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur.

Selang dua hari kemudian, Jokowi membalasnya dengan inspeksi mendadak ke proyek Hambalang di Bogor yang telah mangkrak. Tak lama kemudian diketahui bahwa Jokowi mengunggah diakun Twitternya dengan kalimat, "Sedih melihat aset negara di proyek Hambalang mangkrak. Penuh alang-alang. Harus diselamatkan". tak lupa dengan inisial Jkw yang menandakan kalau status di Twitter itu benar dibuat olehnya.

Proyek Hambalang
Proyek ini bermasalah di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan sejumlah petinggi telah ditetapkan sebagai tersangka pada 2013 lalu. Keluar sebagai pesakitan adalah mantan menpora Andi Mallaranggeng dan mantan ketum Demokrat Anas Urbaningrum.

Proyek itu kini hanya menjadi tempat jin buang anak dan sebagai lokasi pacaran dan mabuk-mabukan, juga sebagai arena balap liar.

Mempertahankan budaya
Pantun sebagai budaya ternyata masih diwarisi oleh masyarakat kita. Patut disyukuri bahwa pejabat/elit dinegeri ini sangat peduli dengan budaya peninggalan nenek moyang ini sehingga merasa patut untuk terus dikembangkan bahkan hingga keranah politik.

Tak hanya pantun, ternyata korupsi merupakan salah satu warisan budaya VOC Belanda yang terus beranak pinak hingga sekarang, bahkan berkembang dengan demikian canggihnya. Namun, apakah penyakit laten warisan yang satu ini patut dipertahankan?

Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: