Generasi brutal Indonesia



Kekerasan demi kekerasan terjadi, sebelumnya adalah di Bukitinggi, Sumatera Barat, kian menambah panjang deretan kekerasan di dunia pendidikan. Ya, tidak hanya di sekolah tinggi ataupun universitas, generasi muda Indonesia yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) kini kian diakrabkan dengan suasana demikian. Mengutip berita dari detik.com,
seorang siswi yang dianiaya oleh teman-temannya didalam kelas. Ironisnya, hal tersebut dilakukan saat pelajaran agama yang sedang tidak ada gurunya.
Kemana siswa lainnya? Hanya menonton!
Miris? Tentu saja. Saya saja mual menontonnya (sehingga tidak mengambil screenshoot dari video dimaksud).

Dimana sisi kemanusiaan anak-anak itu?


Saya menganggap orang-orang dalam video itu adalah anak-anak, masih berseragam putih dan merah, dibawah 17 tahun. Mungkin gizi masa kini yang jauh lebih baik, sehingga menyebabkan mereka menjadi cepat dewasa? Anak-anak harusnya berkelakuan sebagaimana halnya anak-anak, memiliki kewajiban untuk belajar sungguh-sungguh, bermain layaknya seorang anak, hormat ke sesama dan orang tua.

Seharusnya fikiran mereka jauh dari kontaminasi sifat-sifat jelek dan menyesatkan. Tapi kenapa itu tidak terbendung?

Dulu semasa saya SD dan masuk ke jenjang sekolah menengah pertama (SMP) ada suatu pelajaran semacam kuliah umum dimasa kini, yakni penataran pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila (P4). Berbagai pendidikan tentang kemanusiaan dan kenegaraan diajarkan dalam kuliah umum itu. Saya lupa, apakah anak-anak SD dimasa itu sudah diajarkan pendidikan tersebut atau belum. Kalaupun ada perkelahian, tidak ada yang namanya pengroyokan. Itu sepanjang yang saya ketahui. Ataukah karena akses media saat ini yang sangat mudah, sehingga berbagai berita dapat kita temukan? Entahlah.

Peran media dan teknologi

Media berperan besar didalam menyampaikan informasi yang benar dan kredibel kepada masyarakat, memang itulah tugasnya. Namun disayangkan, media saat ini seringkali mengabaikan pasar yang ditujunya. Tulisan dan gambar-gambar vulgar diposisikan didepan sebagai headline demi menarik pembaca. Padahal headline seharusnya lebih untuk berita-berita yang bermanfaat bagi khalayak. Lihat saja berbagai media cetak lokal saat ini, menampilkan korban pengkroyokan yang berdarah-darah, jenazah korban pembunuhan, dll yang seharusnya tidak perlu ditampilkan.

Begitupun dengan teknologi, anak-anak kita terlalu cepat senang. Masih SD/SMP sudah diberikan telepon seluler yang dapat mengakses internet tanpa dilindungi dengan parental control bagi orang tua untuk membatasi mereka. Para orang tua harus tau hal demikian, tidak hanya demi memanjakan anak lantas memberikannya mentah-mentah begitu saja. Sulit memang.

Tidak hanya kejadian diatas saja yang mengerikan, berbagai kejadian lainpun ada. Terbaru juga adalah mengenai tips berpacaran yang dimuat dalam buku pelajaran sekolah. Itu buku atau tabloid gaya hidup? #ngakak

Ada yang salah dengan pendidikan kita. Itulah kalimat yang sering dilontarkan oleh para ahli, dan juga praktisi pendidikan. Namun mau sampai kapan ucapan itu terus diucap tanpa adanya perbaikan? Sampai berbuihpun mulut tanpa adanya perbaikan akan sia-sia.

Kini, enerasi muda kita kian diakrabkan dengan berbagai tindakan brutal. Entah siapa yang harus disalahkan, pendidikan orang tuakah? Sekolah? Atau sistem pendidikan kita? Bisa jadi media yang kini tidak terbendung atas nama kebebasan pers? Tak ada yang tau. Haruskah generasi muda kita menjadi generasi brutal?!

Saya tak mau itu, bagaimana dengan anda?

Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: