Cerita haru PSK anak di Filipina


Kisah haru ini diutarakan oleh Fr Shay Cullen, seorang misionaris dan juga pendiri Yayasan Preda di Irlandia.

Baru-baru ini aku pergi dari Olongapo City ke kota Subic dan menunjukkan kepada wartawan deretan-deretan rumah yang telah tertutup dan bobrok yang berjejer disepanjang jalan di Cakaoandayan, Subic. Rumah-rumah itu adalah bukti atas keberhasilan Yayasan Preda dengan bantuan kepolisian Filipina dan Homeland Security AS dimana kami berhasil menyelamatkan 15 anak dibawah umur dari kehidupan mengerikan dari prostitusi.

Baca juga: Kompas mau jadi media beradab, atau biadab!

Beberapa anak dibawah umur yang lebih muda sangat trauma karena terperangkap dan dipekerjakan selama lebih dari setahun dalam berbagai jenis perbudakan seks, sehingga membutuhkan bermacam terapi, dan kasih sayang, persahabatan, juga harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Mereka dibawa ke Preda Home for Girls dan telah mendapatkan pendampingan memadai.

Sebelumnya anak-anak ini direkrut untuk dipekerjakan sebagai pelayan restoran di hotel di Subic Bay Freeport Zone, namun dipaksa untuk melayani pria-pria hidung belang alias menjadi pelacur. Mereka kemudian dibebaskan dan dibawa ke panti sosial pemerintah di Manila. Walau begitu mereka nyatanya masih takut untuk bersaksi karena masih banyak intimidasi dari mafia seks disana. 

Baca juga: Berakhirnya drama penyanderaan WNI di Filipina

Para korban adalah orang-orang miskin, tidak berdaya, dan membutuhkan dukungan yang kuat, perlindungan saksi juga dorongan untuk menemukan keadilan tapi sayangnya instansi pemerintah tidak menyediakan layanan ini secara efektif.

Keberhasilan dari operasi ini sendiri berkat seorang relawan yang merupakan purnawirawan militer Australia yang menyamar menjadi wisatawan seks dan menyusup kedalam bar dan klub malam setempat. Purnawirawan ini adalah seseorang yang bertekad untuk menyelamatkan anak-anak dan mengakhiri perdagangan seks anak. Berkat dia kami berhasil memenjarakan seorang pemilik dan operator bar ke sel tahanan yang kotor dimana ia bisa mati kekurangan gizi dan penyakit.

Baca juga: Lima anak ini gemparkan dunia!

Ini adalah kejahatan kemanusiaan, menurut Paus Francis, yang telah berbicara dan bertindak untuk membawa bersama-sama kepolisian dan pemimpin gereja guna menemukan respon yang lebih efektif dalam memberantas kejahatan semacam ini.

Anak-anak tadi telah dipalsukan identitasnya yang menunjukkan seolah-olah mereka telah dewasa. 

Satu hal yang pasti, kejahatan ini merupakan tragedi hilangnya rasa malu kemanusiaan dan merupakan tanggung jawab setiap negara. Gagal dalam bertindak atas hal ini adalah untuk memaafkannya dan diam begitu saja, padahal ini merupakan kejahatan besar!

Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: