Berita Terkini: Penistaan dan intoleransi agama di Indonesia dapat dibendung dengan cara ini

Indonesia terkenal dengan semboyan negaranya yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika atau berarti Berbeda-beda namun satu jua.

Namun agaknya nilai-nilai ini perlahan mulai bergeser dengan semakin banyaknya berbagai kasus intoleransi dan penistaan agama yang dilakukan oleh beberapa pihak yang memang tidak menginginkan kedamaian, juga ada yang bertindak karena adanya kebodohan.

Berbagai kebodohan yang terjadi seringkali dilakukan dalam bentuk komentar miring mengenai ajaran suatu agama, juga dilakukan oleh generasi muda yang memang tidak memiliki pendidikan agama yang mantap atau sekedar 'iseng'?


Banyaknya kasus penistaan seperti penginjakan terhadap kitab suci, status medsos yang menyerang ajaran suatu agama, juga pembakaran terhadap rumah ibadah merupakan hal yang tidak seharusnya terjadi di bumi Indonesia.

Tidak hanya itu, kasus intoleransi keberagamaan di Indonesia juga kian hari kian santer terjadi. Penyerangan mushala di Tolikara, penutupan gereja di Bogor, penyerangan terhadap minoritas Syiah/ Ahmadiyah, pembakaran vihara di Tanjung Balai, hanyalah sekelumit kisah dari begitu banyaknya peristiwa intoleransi yang mungkin tidak terekspos ke permukaan.

Sebuah studi di Universitas Gadjah Mada mengungkapkan kasus penodaan agama dan rumah ibadah di Indonesia menunjukkan tren yang meningkat setiap tahunnya.

Di 2012 saja tercatat 22 kasus penodaan agama. Pada 2016 ini tren yang sama juga kian mengkhawatirkan ditengah derasnya arus informasi yang mengalir bebas tak terarah.

Media sosial yang seharusnya digunakan untuk menjalin persahabatan justru digunakan untuk berbagai kegiatan menghasut dan memprovokasi masyarakat.

Sebagaimana yang terjadi di Tanjung Balai, Sumut pembakaran terhadap vihara dilakukan karena adanya provokasi yang dilakukan oleh aktivis LSM setempat. Miris.

Cukuplah berbagai peristiwa penistaan dan intoleransi yang ada dijadikan sebagai pelajaran bagi setiap orang. Bukan justru memanaskan suasana, manusia Indonesia bisa lebih baik daripada hanya sekedar memperkeruh suasana.

Cegah kekerasan
Dalam menghadapi berbagai kasus penistaan dan intoleransi agama, sudah seharusnya tokoh agama seharusnya mampu menghindari adanya gesekan dengan memberikan arahan yang mendinginkan. Pemerintah sudah sedianya mencegah berbagai potensi yang dapat menyulut ke arah itu.

Orang tua sebagai garda terdepan didalam membentengi putra putrinya harus mampu memberikan teladan yang baik agar anak tidak melakukan tindakan yang kurang terpuji. Pantaulah aktivitas anak di media sosial, berikan perhatian yang memadai dan pantau pertumbuhan anak.

Kepada masyarakat pengguan media sosial seharusnya memanfaatkan kesempatannya untuk tidak menyebarkan berita yang dianggap memprovokasi. Jangan turut serta membagikan berbagai gambar yang dapat memicu kontroversi dan tidak penting.
Indonesia indah karena adanya perbedaan. Tuhan menciptakan kita berbeda agar saling mengenal. Dia memberikan kita jarak agar saling mendoakan.
Stop penistaan, intoleransi, dan kekerasan mulai dari saya! Katakan pada diri anda.

Indah, bukan?











Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: