Internet of Everything: Cerewetnya orang Indonesia di media online

Pada 2014 trafik internet di Indonesia menduduki peringkat ke-2 tercepat di dunia. Diberitakan juga bahwa Indonesia mulai memasuki era Internet of Everything, suatu era di mana penggunaan internet negara ini terus berkembang pesat. Masyarakat Indonesia harus mampu membentuk transfomasi di Indonesia melalui era yang pada beberapa tahun lalu mustahil tercapai.
  • Pengguna internet di Indonesia terus tumbuh setiap tahunnya. Namun berbagai fakta menunjukkan bahwa kemajuan itu tidak dibarengi dengan penggunaan yang sehat dan aman bagi setiap orang.
  • Banyak ditemukan berbagai komentar, status, berita yang dibuat untuk menyudutkan salah satu pihak dan parahnya digunakan untuk menyebarkan paham radikal yang merusak.
  • Masyarakat Indonesia dan pengguna internet seharusnya dapat lebih selektif memilih bacaan di internet dan menyaring berbagai informasi yang diterima.

Penggunaan internet kian menjamur dan terus berkembang di Indonesia. Penetrasi penggunaan internet dengan menggunakan smartphone memang kian santer. Apalagi harga gadget pintar itu makin hari semakin turun dengan dukungan teknologi yang makin smart.

Begitupun dengan kebiasaan penggunaan internet orang-orang Indonesia, makin beragam dan kreatif.

Kalau sebelumnya banyak penelitian kebiasaan orang Indonesia di berbagai media sosial, masih jarang ada pemberitaan yang menyebutkan kebiasaan orang Indonesia di berbagai kolom komentar situs berita.

Baca juga: Kompas mau jadi media beradab atau biadab?

Yup, orang Indonesia memang terkenal paling 'cerewet' di media sosial. Walau baru memiliki jumlah pengguna internet yang minim, nyatanya tak menyurutkan kecerewetan mereka. Bahkan menggema dan kian didengar oleh pengguna internet dunia.

Tak hanya saat di medsos, di berbagai kolom komentar media online tak jarang orang Indonesia yang mengomentari berbagai berita yang ada. Apalagi kalau berita itu bercerita tentang panggung politik tanah air, makin ramai yang komentar.

Bermacam-macam tipe komentar orang Indonesia tak sedikit yang menyerempet isu sensitif. Banyak dari mereka yang saling beradu argumen dengan komentar-komentarnya yang nyeleneh.

Baca juga: Bangganya jadi mahasiswa UGM

Bahkan tidak itu saja, cacian dan makian kerap terlontarkan oleh 'jari' mereka yang menekan tuts keyboard. Istilah lidah tak bertulang kini sepertinya tergantikan dengan jari tak bertulang.

Sangat disayangkan apabila adanya teknologi internet justru menyebabkan perpecahan diberbagai kalangan komunitas online. Saling benci, tuding, fitnah seakan biasa di sini. Hukum yang dibentuk dan dikemas dalam UU ITE seolah tidak menjadikan mereka jera, beberapa harus terjerat masalah hukum yang berbelit.

Sebut saja kasus Prita Mulyasari yang begitu menggemparkan Indonesia beberapa tahun silam. Kemudian ada juga kejadian yang menimpa dr. Hj. Ira Simatupang karena diduga melakukan pencemaran nama baik. Adapula kisah pelajar yang terjerat UU ini karena menyebarkan teror via medsos.

Baca juga: Google yang makin smart

Hingga kini memang belum ada orang-orang yang dikenakan sanksi oleh UU ITE karena berkomentar diberbagai kolom komentar media online dengan tidak bijak. Namun, tetap saja berbagai komentar miring apapun yang mengusik kenyamanan dan ketenteraman di masyarakat seharusnya tidak dilakukan.

Herannya berbagai komentar 'busuk' itu tetap muncul walaupun kolom komentar tersebut di moderasi oleh admin. Seperti di berbagai kolom komentar media sekelas DETIK.COM ataupun KOMPAS.COM, misalnya. Ada saja orang-orang yang berkomentar untuk menghina satu golongan tertentu dan berbau SARA. Lucunya, komentar semacam itu disetujui oleh moderator.

Berbagai komentar berbau SARA yang ada di KOMPAS.COM. Pertanyaannya adalah, apakah komentar semacam ini tidak dapat disaring terlebih dulu sebelum disetujui?
Ada juga komentar-komentar lucu lainnya dibeberapa berita teknologi dan informasi. Pembacanya saling serang satu sama lain karena begitu mencintai merk tertentu. Apalagi kalau bukan antara pengguna produk Apple dan Samsung. Merasa sebagai pengguna setia, pendukungnya bisa saling menghina. Padahal kedua perusahaan adem ayem aja tuh beberapa tahun belakangan.

Seharusnya, dengan adanya kemajuan internet di Indonesia yang makin kencang, penggunanya juga dapat memanfaatkannya dengan bijak. Bukan malah untuk bertindak ceroboh dan negatif, apalagi untuk melemparkan isu-isu negatif yang tak penting.

Sebaiknya saring terlebih dulu bermacam informasi yang kita dapatkan sebelum berkomentar. Gunakanlah teknologi dan informasi dengan bijak.












Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: