Harus tau, ini biografi calon gubernur dalam Pilkada DKI 2017


Proses pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017 telah resmi ditutup, Jumat (23/9/2016) malam. Ada tiga pasang calon yang mendaftar ke KPU DKI Jakarta.

Ketiga pasang calon itu adalah petahana Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang diusung PDI Perjuangan, Hanura, Golkar, dan Nasdem.

Kedua adalah Agus Harimurti Yudhoyono dan Deputi Gubernur DKI Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Sylviana Murni yang diusung Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PAN.

Sedangkan yang ketiga adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, dan politisi Gerindra, Sandiaga Uno, yang diusung Partai Gerindra dan PKS.

Nah, apakah sobat udah tau tentang orang-orang ini? Berikut adalah biografi dari ketiga pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Pilkada DKI 2017.

  1. Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama
    Basuki Tjahaja Purnama merupakan calon gubernur yang saat ini masih menjabat (petahana). Pria yang lahir di Manggar, Belitung Timur 50 tahun lalu ini dikenal dengan panggilan Ahok, menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 19 November 2014.

    Beliau pada 14 November 2014 diumumkan secara resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta pengganti Joko Widodo, melalui rapat paripurna istimewa di Gedung DPRD DKI Jakarta.

    Basuki resmi dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden Joko Widodo pada 19 November 2014 di Istana Negara, setelah sebelumnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas Gubernur sejak 16 Oktober hingga 19 November 2014.

    Selama menjabat sebagai gubernur, ada begitu banyak kontroversi yang menerpa pemerintahannya.

    Seperti permasalahan lahan Rumah Sakit Sumber Waras, penertiban Kalijodo, pelarangan pemotongan hewan kurban, juga kaitannya dengan sengketa APBD 2015.

    Beliau juga kerap dituding 'terlalu kasar' kepada orang-orang yang berseberangan dengannya dan terhadap anak buah.

    Berbagai penolakan terhadap kepemimpinan beliau juga sering dilontarkan oleh beberapa organisasi kemasyarakatan berbasis agama.

    Seperti Front Pembela Islam, misalnya, sempat menolak pengakatan Basuki dengan tiga dasar: Basuki tidak beragama Islam, perilaku Basuki dianggap arogan, kasar, dan tidak bermoral, juga penolakan umat Islam Jakarta terhadap kepemimpinan Ahok.

    Namun tidak ada survey penuh yang dilakukan atas penolakan yang ketiga. Nyatanya, elektabilitas Ahok tetap yang terbesar diantara calon lainnya, yakni 43,2 persen.

    Terkait dengan kontroversinya seperti penertiban Kalijodo, hal ini justru banyak dianggap sebagai prestasi tersendiri.

    Kalijodo yang tadinya berupa kawasan kumuh, berhasil di permak menjadi lebih baik.

    Begitupun dengan kawasan kumuh lain di DKI, bersama jajarannya beliau mampu menertibkan dan merelokasi warga agar mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

    Ahok juga dianggap selalu membuat heboh berbagai hal terkait dengan kebijakan dan pernyataannya.
  2. Agus Harimurti Yudhoyono
    Mayor Inf. TNI Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., MPA., M.A. merupakan putra sulung dari mantan presiden  Susilo Bambang Yudhoyono. Lahir di Bandung, Jawa Barat 38 tahun silam, secara tidak terduga menjadi salah satu kandidat Calon Gubernur DKI Jakarta 2017.

    Walau masih baru, sosok Agus Harimurti Yudhoyono dan Slylviana Murni yang diusung Koalisi Cikeas dinilai mampu meraih elektabilitas tinggi dalam Pilkada DKI 2017.

    Pilihan untuk maju dalam Pilkada DKI 2017 tentu membuat Agus harus meninggalkan dan mundur dari TNI, institusi yang selama ini menaungi dan tempatnya meniti karier.

    Agus mengatakan, keputusannya maju dalam Pilkada DKI karena ingin mengabdi untuk masyarakat Jakarta.

    Bersama dengan Sylviana Murni, dia berharap diberi kepercayaan untuk membuat masyarakat Jakarta semakin maju, aman, tertib, meningkatkan perekonomian, kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan sosial.

    Walau tidak memiliki pengalaman birokrasi, pilihannya maju bersama Deputi Gubernur DKI bidang Pariwisata dan Kebudayaan Sylviana Murni dinilai bisa melengkapi Agus Yudhoyono. Kelemahan Agus dalam hal mengurus birokrasi dinilai bisa teratasi dengan adanya Sylviana.
  3. Anies Baswedan
    Bernama lengkap Anies Rasyid Baswedan, Ph.D, adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia ke-26 di Kabinet Kerja sejak 26 Oktober 2014.

    Dalam pertengahan periode Kabinet, Ia digantikan oleh Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dalam perombakan Kabinet 27 Juli 2016.

    Ia adalah seorang intelektual dan akademisi asal Indonesia. Beliau merupakan Cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan.

    Beliau menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar dan menjadi Rektor termuda yang pernah dilantik oleh sebuah perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2007, saat menjadi Rektor Universitas Paramadina pada usia 38 tahun.

    Beberapa prestasi Anies selama menjabat sebagai menteri adalah mengubah fungsi Ujian Nasional tak lagi menjadi penentu kelulusan seorang pelajar.

    Perubahan ini membuat UN tak lagi menjadi momok menakutkan bagi pelajar di tanah air.

    Selain itu, Anies juga melakukan beberapa gebrakan yang berseberangan dengan pemerintahan sebelumnya, yakni meninjau ulang pelaksanaan kurikulum 2013 yang dinilai sangat problematik.

    Sebab, dunia pendidikan di Indonesia dinilainya belum siap menerapkan kurikulum baru tersebut.

    Kemudian, Anies berhasil membangun ekosistem pendidikan di semua sekolah.

    Sayangnya walaupun dengan prestasi-prestasi itu, Anies dicopot dari kabinet kerja lantaran dianggap tak melakukan gebrakan yang cepat selama menjabat sebagai Mendikbud.
Sumber: Kompas, Wikipedia, Tempo, Merdeka

Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: