Erdogan kesal dengan AS: berhenti sembunyikan teroris!

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) agar mereka berhenti menyembunyikan teroris seperti Fethullah Gulen.

Tidak hanya itu, Erdogan juga menghimbau supaya AS melarang segala aktivitas kelompok Gulen di seluruh dunia.

“Jika AS memang sekutu strategis dan partner NATO kami, maka mereka tidak boleh membiarkan seorang teroris seperti Fethullah Gulen menjalankan organisasinya,” ujar Presiden Erdogan dalam sebuah wawancara, sebagaimana dilansir Reuters, Selas (20/9/2016).

Kendati demikian, Gulen terus menyangkal tuduhan bahwa ia terlibat dalam insiden kudeta pada 15 Juli lalu.

Hingga saat ini, Washington terus meminta bukti keterlibatan Gulen kepada Ankara. Meskipun sejumlah dokumen telah diserahkan, Washington hingga saat ini tetap belum mengekstradisi Gulen.

Pascakudeta militer, hubungan dengan Pemerintah AS terus merenggang dan Ankara terus mendekatkan diri dengan Moskow.

Bahkan, dalam pertemuan kedua pemimpin negara, Moskow dan Ankara tampak akrab dan melakukan sejumlah kesepakatan.

Presiden Vladimir Putin bahkan memberikan dukungan atas tindakan yang dilakukan oleh Presiden Erdogan.

Kudeta militer di Turki telah mengakibatkan sejumlah orang meninggal dunia. Ribuan orang telah ditahan dan ditangguhkan dari jabatannya.

Atas tindakan ini, pihak internasional khususnya dari Barat mengecam tindakan keras yang dilakukan Presiden Erdogan.

Setelah meluncurkan kudeta, militer Turki memberlakukan jam malam kepada warga sipil untuk meminta mereka tinggal di rumah.

Namun Erdogan menyerukan kepada pendukungnya untuk mengabaikan perintah itu dan turun ke jalan, yang diduga menyebabkan tentara lepas kendali.

Ledakan dan tembakan meletus di Istanbul dan Ankara pada malam selama kudeta yang menewaskan sedikitnya 200 orang dalam upaya militer untuk menggulingkan pemerintahan Erdogan.

Di tempat lain, tentara menembaki masyarakat sipil yang mencoba menyeberangi jembatan si sungai Bosphorus untuk protes kepada militer, sementara sebuah bom meledak di gedung parlemen, menurut kantor berita nasional. Keamanan di negara itu kini menjadi lebih berbahaya.

Dalam sebuah pernyataannya, Fraksi Militer mengatakan bahwa mereka mengambil tindakan 'untuk menginstal ulang tatanan konstitusional, demokrasi, HAM, dan kebebasan, guna memastikan bahwa aturan hukum di Turki. Hukum dan ketertiban harus dipulihkan.'

Militer Turki memang telah lama dilihat sebagai penjaga agenda sekuler di Turki, dan telah berulangkali terlibat dalam berbagai kudeta di Turki dalam 60 tahun terakhir, ketika merasa pemerintahan yang ada terlalu jauh dari nilai-nilai sekuler.

Pihak militer mengatakan bahwa 'semua perjanjian dan komitmen internasional akan tetap. Kami berjanji bahwa hubungan baik dengan semua negara di dunia akan terus berlanjut.'

Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim mengatakan kepada media, "keliru mengatakan bahwa upaya tentara ini adalah sebuah kudeta," dan menyebut tindakan ini adalah "percobaan ilegal" oknum militer di luar lingkar kekuasaan yang berusaha merenggut kekuasaan itu.

"Pemerintahan yang dipilih rakyat masih memimpin. Pemerintah baru akan meninggalkan pemerintahan apabila rakyat menginginkannya," tambahnya.

Sumber: Okezone

Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: