Mempertanyakan komitmen Jokowi memperjuangkan kemerdekaan Palestina

REPUBLIKA
Apa yang terjadi pada Palestina memang menyedihkan.

Berbagai pembunuhan dan penangkapan tanpa proses peradilan yang layak terhadap anak-anak muda Palestina terus dilakukan oleh otoritas Israel. Begitupun dengan pencaplokan tanah orang-orang Palestina.

Pada Agustus lalu, sebuah jip militer Israel dengan sengaja melindas pemuda Palestina di Jenin, Tepi Barat. Alih-alih mendapatkan pertolongan, pemuda tersebut justru dibawa untuk diinterogasi.

Sumber-sumber medis Palestina mengatakan sang anak, yang diidentifikasi sebagai Islam Sabaghna, ditabrak oleh jip militer “Israel” di jalan utama yang menghubungkan kota Qabatia, Sanour dan desa Msalya, selatan Jenin, lansir IMEMC.

Tak hanya itu, baru-baru ini seorang warga Palestina di Israel diadili karena mengemudi ugal-ugalan hingga menewaskan saudara sepupunya yang juga warga Palestina.

Masalahnya, si sepupu tewas ditembak polisi Israel dan warga Palestina tersebut hanya mengemudikan mobil itu.

Seperti dilansir AFP, Jumat (16/9/2016), warga Palestina bernama Ali Nimr ini dituding bertanggung jawab atas kematian sepupunya yang bernama Mustafa Nimr dalam insiden pada 5 September lalu.

Nimr bahkan disebut mengemudi dalam keadaan mabuk dan berada di bawah pengaruh narkoba.

Ditegaskan dalam persidangan, saat polisi merasa nyawa mereka dalam bahaya, tembakan dengan peluru sungguhan dilepaskan ke arahnya. "Akibat dari tembakan itu, terdakwa tertembak bersama korban yang tewas seketika karena luka tembak di kepala," terang dakwaan itu.

Saat insiden terjadi, polisi Israel melepas tembakan karena mencurigai Ali hendak menabrak mereka.
Namun belakangan, polisi Israel mengakui bahwa Ali tidak berniat menabrak mereka.

Namun tetap saja mereka bersikeras, cara mengemudi Ali yang ugal-ugalnya membuat polisi curiga sehingga dia bertanggung jawab atas kematian Mustafa.

Mempertanyakan komitmen Jokowi memperjuangkan kemerdekaan Palestina


Pembukaan UUD 1945/SCREENSHOT
Militer Israel dengan mudahnya begitu saja menghujamkan timah panas ke kepala anak muda Palestina. Namun sayangnya dunia seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi.

Meluasnya wilayah Israel dan bertambahnya pemukiman menjadi bukti bahwa negara itu begitu berkuasa. Kritikan dari 'oknum' barat pun mereka abaikan karena begitu hausnya akan kekuasaan di sana.

Eropa yang selama ini selalu berkoar sebagai penjunjung tinggi HAM, tetap saja tak berdaya dengan negara yang sebenarnya masih ingusan itu.

Mau sampai kapan Eropa terus merasa bersalah atas apa yang mereka lakukan kepada Yahudi dulu? Lantas kenapa pula harus Palestina yang menanggung kesalahan mereka?

Okelah ada beberapa negara yang terang-terangan menolak penjajahan, atas tindakan yang dilakukan oleh Israel mengoyak-ngoyak Palestina.

Tapi apalah arti pembelaan dari negara yang suaranya sering diabaikan ini?
Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, tragedi kemanusiaan yang kini terjadi di Jalur Gaza akan menjadi dosa sejarah, jika masyarakat internasional tidak memiliki kepedulian dan tanggung jawab moral untuk menghentikannya.
Siapa sih yang mau dengar?

Begitupun dengan Jokowi yang pada masa kampanye terus berkoar akan mengusahakan kemerdekaan Palestina.

Bahkan ketika berlangsungnya KAA pada April lalu seorang menterinya sesumbar mengatakan bahwa pemerintah Indonesia telah menghubungi AS untuk membuka kedutaan di Ramallah.

Perlu dicatat bahwa Palestina merupakan satu-satunya anggota Konferensi Asia Afrika yang belum merdeka, walau sudah bergabung sejak tahun 1955.

Bagaimana dengan tindak lanjutnya, Pak Jokowi?

Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: