Berita Terkini: Turki diguncang kudeta berdarah, lagi!

Jembatan Bosphorus yang terkenal.
Apa yang terjadi di Turki ini tidak patut dicontoh. Alih-alih memenangkan kudeta yang dilancarkan militer Turki, upaya ini nyatanya menyebabkan 200 orang tewas dalam satu malam yang kelam, semalam.

  • Setidaknya 1.000 orang terluka dalam pemberontakan berdarah, dimana pendukung Erdogan, Presiden Turiki, terlibat bentrok dengan pemberontak dari militer.
  • Gedung Parlemen Turki diserang dan dibom, banyak warga yang ditembaki.
Lebih dari 1.500 pemberontak ditahan setelah kegagalan militer mengkudeta Presiden Recep Tayyip Erdogan. Kejadian ini juga menewaskan 200 orang dan 1.000 lainnya terluka.

Pemberontak dari faksi militer ini - yang menyebut dirinya Dewan Perdamaian - mengatakan bahwa mereka berusaha menggulingkan pemerintah untuk mengembalikan HAM dan melindungi demokrasi yang direnggut Erdogan bersama partainya, AKP, yang telah berulangkali menghadapi kritik dari kelompok HAM dan sekutu barat atas tindakan keras terhadap pemrotes pemerintahan.

Namun, Erdogan dalam pernyataannya menyalahkan musuh lamanya, Fethullah Gulen, yang mendalangi pemberontakan. Saingan Erdogan yang tinggal di Pennsylvania, AS ini telah sering diduga mendalangi berbagai kerusuhan politik di Turki.

Lima jam setelah kekacauan dimulai, dua bus berisi tentara menyerbu masuk ke markas kantor berita pemerintah, TRT, mengambil alih berita dan menggantinya dengan perkiraan cuaca.

Setelah meluncurkan kudeta, militer Turki memberlakukan jam malam kepada warga sipil untuk meminta mereka tinggal di rumah. Namun Erdogan menyerukan kepada pendukungnya untuk mengabaikan perintah itu dan turun ke jalan, yang diduga menyebabkan tentara lepas kendali.

Setelah pemberontakan ditumpas pada dini hari Sabtu pagi, Erdogan mengatakan kepada massa yang berkumpul di bandara Ataturk bahwa mereka yang setia kepada Gulen telah 'menembus Angkatan Bersenjata dan Polisi, diantara instansi pemerintah lainnya, selama 40 tahun terakhir.'

"Apa yang sedang mereka lakukan merupakan pemberontakan dan pengkhianatan," kata Erdogan. "Mereka akan membayar harga yang mahal karena pengkhianatan mereka kepada Turki," tambahnya.

Ada hingga 100 tentara yang menyerah di sebuah jembatan yang terkenal, Bosphorus Bridge, setelah pemberontakan yang gagal. Setidaknya sekitar 1.563 tentara ditangkap sehubungan dengan kejadian dramatis ini.

Ledakan dan tembakan meletus di Istanbul dan Ankara pada Jum'at malam selama kudeta yang menewaskan sedikitnya 200 orang dalam upaya militer untuk menggulingkan pemerintahan Erdogan.

Di tempat lain, tentara menembaki masyarakat sipil yang mencoba menyeberangi jembatan si sungai Bosphorus untuk protes kepada militer, sementara sebuah bom meledak di gedung parlemen, menurut kantor berita nasional. Keamanan di negara itu kini menjadi lebih berbahaya.

Dalam sebuah pernyataannya, Fraksi Militer mengatakan bahwa mereka mengambil tindakan 'untuk menginstal ulang tatanan konstitusional, demokrasi, HAM, dan kebebasan, guna memastikan bahwa aturan hukum di Turki. Hukum dan ketertiban harus dipulihkan.'

Militer Turki memang telah lama dilihat sebagai penjaga agenda sekuler di Turki, dan telah berulangkali terlibat dalam berbagai kudeta di Turki dalam 60 tahun terakhir, ketika merasa pemerintahan yang ada terlalu jauh dari nilai-nilai sekuler.

Pihak militer mengatakan bahwa 'semua perjanjian dan komitmen internasional akan tetap. Kami berjanji bahwa hubungan baik dengan semua negara di dunia akan terus berlanjut.'

Perdana Menteri Turki, Binali Yildirim mengatakan kepada media, "keliru mengatakan bahwa upaya tentara ini adalah sebuah kudeta," dan menyebut tindakan ini adalah "percobaan ilegal" oknum militer di luar lingkar kekuasaan yang berusaha merenggut kekuasaan itu.

"Pemerintahan yang dipilih rakyat masih memimpin. Pemerintah baru akan meninggalkan pemerintahan apabila rakyat menginginkannya," tambahnya.






Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: