Berita Terkini: Tanjung Balai Sumut rusuh, rumah ibadah di bakar

Indonesia dengan keberagaman penduduknya sejak lama dikenalkan dengan berbagai perbedaan dan toleransi. Namun ketika toleransi itu diinjak, mungkin inilah yang terjadi. Seperti apa yang terjadi di Tanjung Balai, Sumut ini tak seharusnya dicontoh bagi siapapun. Karena merasa terganggu terhadap aktivitas keagamaan disebuah masjid di depan rumahnya, seorang wanita protes ke pengurus masjid.

Setiap orang Indonesia seharusnya perlu kembali ke dasar negara Pancasila dengan motonya Bhineka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetapi satu jua. Mengingatkan kita bahwa kerukunan ummat beragama adalah nomor satu demi terjalinnya hubungan masyarakat yang baik.
  • Kota kecil di wilayah Sumatra Utara ini sebelumnya sudah pernah mengalami kerusuhan rasial disaat terjadinya krisis multidimensi pada Mei 1998.
  • Kini kerusuhan yang dipicu protes seorang warga keturunan Tionghoa di Tanjung Balai kembali terjadi.
  • Sedikitnya 9 vihara dan kelenteng dibakar oleh massa yang mengamuk. 
    Adapun sebanyak 7 orang ditangkap dan diamankan di Mapolsek Tanjung Balai karena tertangkap tangan melakukan penjarahan.
  • PBNU sebagai organisasi Islam terbesar menyayangkan terjadinya aksi anarkis dan meminta semua pihak untuk menahan diri.
Sangat disayangkan apa yang terjadi di kota Tanjung Balai, Sumatra Utara ini. Akibat dari protes salah seorang warga di Jalan Karya Kel TB, Kota I, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Sumatra Utara terhadap aktivitas keagamaan di sebuah masjid, kerukunan beragama di sana tercoreng.


Massa yang emosi mendatangi rumah wanita keturunan Tionghoa itu untuk meminta penjelasan. Sebelumnya massa sempat membubarkan diri, namun karena adanya provokasi yang entah datang dari mana, warga kembali dan hampir membakar rumah wanita tersebut.

Kebersatuan ummat beragama sangat diperlukan demi tercapainya keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Hindari berbagai bentuk pelecehan terhadap agama lain.

Aparat yang bertindak cepat segera mengamankan wanita itu dan suaminya dari amuk massa. Kelenteng dan vihara menjadi sasaran pelemparan batu dan menjadi sasaran amuk massa. Dua vihara terbesar di Tanjung Balai tak luput dari amukan massa yang emosi.

Menurut warga setempat, massa terbagi menjadi beberapa kelompok karena vihara dan kelenteng yang terbakar terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kerusuhan yang pecah pada Jum'at malam (29/07/2016) di Tanjung Balai, Sumut ini diduga akibat adanya provokasi yang dilakukan oleh oknum tertentu melalui media sosial.

Dari informasi yang dihimpun, peristiwa ini bermula dari seorang warga yang menegur pengurus rumah ibadah untuk mengecilkan suara mikrofon. Malamnya pengurus rumah ibadah itu menemui warga yang protes, namun tanpa disangka suasana memanas dan polisi terpaksa mengamankan pasangan suami istri itu ke Mapolsek Tanjung Balai Selatan demi keamanan.

Sekitar pukul 22.30 WIB, Jumat (29/07/2016), konsentrasi massa terjadi. Diduga berkumpulnya massa ini akibat dari informasi yang diunggah ke akun medsos yang dilakukan oleh salah seorang aktivis.


Untuk menormalkan kondisi, sejumlah aparat kepolisian dan TNI telah diturunkan ke beberapa titik kerusuhan. Kepolisian Daerah Sumatra Utara dalam pernyataannya mengatakan telah mengirimkan personil pantuan untuk mengamankan kota Tangjung Balai. 

Pengamanan juga dibantu oleh TNI dari Kodim 0208 Asagan dan Pangkalan Angkatan Laut Tanjung Balai. Selain itu aparat juga tengah berkoordinasi dengan tokoh agama dan masyarakat demi tercapainya kembali suasana yang kondusif.

Namun hingga kini suasana di sana masih mencekam. Ketakutan merebak di kalangan warga Tionghoa di daerah itu. Kejadian ini merupakan kali pertama insiden antar etnis pecah sejak kerusuhan nasional Mei 1998. Sebelumnya warga sangat rukun dan menjunjung toleransi.


Masukkan email sobat untuk dapatkan berita terbaru: